#Selamat Datang di Blog Resmi MGMP IPA SMP/ MTs Kota Pekalongan.#Kami segenap pengurus MGMP IPA Kota Pekalongan mengucapkan "Taqobalallah mina wa minkum Shiyamana wa shiyaminkum Sholekhah Al-a'mal" Semoga Allah menerima ibadah puasa kita dan segala amal baik kita. Mohon Ma'af Lahir dan Batin#Selamat Hari Raya I'edul Fitri 1 Syawal 1437H

Sabtu, 23 Januari 2016

Bikin Kincir Angin untuk Menggerakkan Pompa Air

Terobosan Warga Kandang Panjang Pekalongan Utara dalam Mengatasi Banjir dan Rob
BANJIR dan rob, masih menjadi persoalan serius yang selalu melanda sejumlah wilayah di Kota Pekalongan. Namun, warga di kawasan Perumahan Swadaya Asri 1, atau yang dikenal pula sebagai Kampung Pesona Swadaya Greenland, punya cara tersendiri untuk menjadikan banjir dan rob itu sebagai sebuah tantangan. Bahkan, mereka bisa mengambil berkah dan banjir dan rob yang selalu menggenangi lingkungan mereka. Mereka berupaya keras agar permasalahan banjir dan rob itu teratasi. Akhirnya muncul sebuah kreativitas.
Salah satunya, inisiatif membuat kincir angin pengendali rob. Kincir angin ini menjadi alternatif berbiaya murah dan ramah lingkungan, untuk menggantikan alkon atau pompa penyedot air berbahan bakar minyak yang biaya operasionalnya cukup memberatkan warga.
Pantauan Radar Pekalongan, Kamis (21/1), kincir angin pengendali rob ini masih setengah jadi. Lokasi pembangunannya berada di daerah lapangan, sehingga terpaan angin cukup kencang, karena tidak terhalang bangunan ataupun pohon.
Terlihat, onstruksi beton untuk kincir angin itu telah dibangun di atas saluran drainase berbentuk parit yang sudah terbangun sebelumnya. Parit itu mengalirkan air dari permukiman menuju ke saluran drainase yang lebih besar, hingga berakhir di laut. Sedangkan baling-baling belum terpasang lantaran masih proses pengerjaan di bengkel.
Koordinator Komunitas Pesona Swadaya Hijau (Sebuah komunitas yang bergeraj di bidang lingkungan), Agus Dartam, menjelaskan nantinya kincir angin tersebut akan dibuat setinggi 6,5 meter, dengan penampang konstruksi beton selebar empat meter. Adapun panjang bentangan bilah baling-baling mencapai lima meter.
Diharapkan, sekitar satu bulan lagi kincir angin tersebut sudah bisa dioperasikan. “Pekerjaan saat ini sudah sekitar 60 persen. Saat ini masih menunggu konstruksi betonnya biar matang dulu. Disamping itu masih menunggu penyelesaian baling-baling yang sedang dikerjakan oleh bengkel, serta perbaikan – perbaikan desain,” jelas pria yang juga Ketua RT 5 RW 11 kelurahan Kandang Panjang ini.
Agus menjelaskan, gambaran pengoperasian kincir angin pengendali rob itu hampir sama dengan kincir angin yang digunakan para petani garam di sejumlah daerah, seperti di Juwana dan Jepara. “Di sana dengan hanya pakai bahan sederhana, pakai kayu, ambu, dan sebagainya, sudah bisa jalan. Maka kita berpikir, kenapa hal yang sama tidak kita terapkan di sini,” ungkapnya.
Apalagi, wilayah sekitar Kandang Panjang punya potensi embusan angin cukup bagus. “Kita perhitungkan embusan angin ini kuat untuk menggerakkan bilah kincir angin ini, kemudian putaran dari kincir, tersebut akan menggerakan pompa. Sehingga bisa mengalirkan air ke saluran pembuangan,” katanya.
Sebelumnya, warga biasa memakai mesin pompa berbahan bakar minyak untuk memompa genangan banjir dan rob. Pompa air atau alkon tersebut memang cukup efektif mengurangi genangan. Namun, biaya operasionalnya cukup tinggi. “Selama ini untuk mengatasi banjir dan rob masih pakai langkah peninggian dan pemasangan pompa air. Kalau dipikir meski pompa air tersebut efektif tetapi biayanya luar biasa. Awalnya sih murah. Tetapi operasionalnya membebani masyarakat. Maka dengan keberadaan pompa yang digerakkan oleh kincir angin ini diharapkan bisa menghemat tenaga dan uang. Tak perlu menggunakan tenaga manusia maupun pompa berbahan bakar minyak ataupun listrik lagi,” tuturnya.
Agus membeberkan bahwa kincir angin tersebut dirancang oleh tim teknis dari Fasilitatator Kelurahan (Faskel) Pemberdayaan PLBK bersama warga setempat, dengan memberdayakan masyarakat setempat. Cara kerja pompa air berpenggerak kincir angin itu menurutnya sama dengan pompa air jenis pompadragon yang digerakkan secara manual menggunakan tangan.
Pada kincir angin ini, putaran baling-baling akan menggerakan sistem pompa di bawahnya. Pompa tersebut akan menyedot air atau genangan banjir dan rob dari permukiman yang dialirkan melalui saluran. “Air dari permukiman itu dialirkan ke saluran pembuangan menuju ke laut,” bebernya.
Ia menambahkan, rencananya kincir angin itu akan dilengkapi gardan, berikut sirip di bagian ekor baling-baling. Adanya gardan dan ekor bersirip ini, maka kincir tersebut bisa bergerak bebas ke segala penjuru untuk menyesuaikan arah angin. “Apakah itu angin dari arah laut, dari darat, angin timur, atau barat, bisa memutar bilah kincir,” terangnya.

REPLIKASI PLPBK
Lebih jauh Agus Dartam membeberkan bahwa biaya pembuatan kincir angin pengendali rob itu sekitar Rp 34 juta dari APBD Kota Pekalongan tahun 2014 untuk Replikasi Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK).
Penerima dana Replikasi PLPBK tersebut merupakan kelurahan dengan kinerja Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) paling baik di masing-masing kecamatan. Salah satu yang menerima reward adalah BKM Daya Guna Kelurahan Kandang Panjang Kecamatan Pekalongan Utara. “Sebagian dananya kita realisasikan untuk pembangunan kincir angin ini,” katanya. Agus menerangkan, kincir angin yang sementara ini baru dibangun satu unit. Nantinya bisa mengurangi genangan banjir dan rob di wilayah RT 5, RT 4, dan RT 6 Kelurahan Kandang Panjang. “Sementara hanya bisa untuk kawasan ini dulu,” ujarnya.
Andaikata nantinya kincir angin itu berhasil dan ternyata cukup efektif, maka tak menutup kemungkinan akan direplikasi untuk dibangun dikawasan – kawasan lain di kota batik. “Mungkin ke depan akan di tambah jumlahnya, dengan cakupan lebih luas lagi.misalnya di daerah Kandang Panjang ini, idealnya sedikitnya ada empat unit kincir an gin semacam ini,” tuturnya.
Bahkan, dalam perkembangan mendatang, setelah melalui berbagai evaluasi, tak menutup kemungkinan kincir angin itu tak hanya berfungsi untuk mengurangi banjir dan rob. Tetapi bisa dikembangkan untuk pembangkit listrik tenaga bayu atau tenaga angin. “Tapiitu tentunya perlu perhitungan lebih matang lagi. Yang penting, sementara ini harpannya kincir angin ini bisa berfungsi optimal untuk mengurangi banjir dan rob di wilayah ini,” pungkasnya. (*)

(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 22-01-2016)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Anda telah berkomentar dengan Sopan...